Posted by: kiaidelan | April 12, 2009

Satu Batang Rokok Lagi Aceh Merdeka?

motivasi-pemilu-cerdas-033Banyak orang khawatir, memprediksikan dan menebak-nebak, saat Partai Aceh berhasil menguasai parlemen (DPRA), maka upaya Aceh untuk memisahkan diri dari Indonesia tinggal sejengkal lagi. Ada yang mengistilahkan “satu isapan batang rokok lagi”.

Kekhawatiran atau apapun namanya akan berpisahnya NAD dari pangkuan Indonesia, sesungguhnya merupakan manifestasi kecintaan rakyat Indonesia akan keberlangsungan hidup negeri nyiur melambai lengkap dengan NAD. Ya, yang namanya kepulauan Nusantara adalah berjajar dari Sabang sampai Merauke. Rakyat Indonesia sudah cukup sedih, saat Timor Timur, Sipadan dan Ligitan berpisah, lepas dari pelukan Indonesia.

Keberlangsungan hidup Indonesia lengkap dengan NAD sempat terganggu saat GAM muncul mendeklarasikan diri sebagai gerakan yang memobilisasi segenap kekuatan lokal untuk memisahkan diri dari Indonesia. Saat itulah konflik pun tak terelakan lagi. TNI melawan GAM menjadi gambaran betapa sengit keinginan kedua belah pihak untuk saling bertahan pada prinsip masing-masing. TNI, representasi pemerintah Indonesia, memegang argument bahwa gerakan sparatis harus ditumpas. Dengan kata lain Aceh harus tetap berada di pangkuan Indonesia. Sementara, GAM tetap bersikeras lepas, merdeka dari Indonesia. Angkat senjata, melawan TNI pun dilakukan, demi satu kata”merdeka”.

Kini saat buah perdamaian telah digapai rakyat Aceh, dan peta politik pun berubah dari pergualatan senjata ke pergulatan politik, pertanyaan Aceh pisah dari RI pun masih muncul. Seorang teman yang tinggal di Jakarta beberapa waktu lalu mengatakan kalau insting-nya mengatakan NAD sebentar lagi pisah dari RI. Indikasinya, menurut dia, kemenangan PA menjadi tolok ukur awalnya.

Dalam lintasan sejarah Aceh memiliki dua sisi pengalaman sejarah. Pertama, Aceh adalah bangsa yang sama-sama berjuang untuk kemerdekaan RI dari tangan kolonialis. Aceh juga telah menyerahkan segenap jiwa raganya menyatu dalam satu tubuh yang namanya Indonesia. Kedua, paska kemerdekaan, bara konflik memancar, saat GAM dideklarasikan sekitar tahun 76. Dalam tempo yang singkat RI pun memberlakukan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Sejak saat itu pertumpahan darah tak terbendung lagi karena kontak sejata dan aksi kekerasan yang diperlihatkan oleh dua kelompok bertikai.

Menyelami makna di balik kata ”merdeka” ke dalam ruang nalar publik, saat ini kata tersebut memiliki dua artikulasi yang cukup berbeda. Pertama, bagi kalangan aktivis sosial dan kelompok intelektual Aceh, merdeka yang sesungguhnya didambakan masyarakat Aceh adalah rakyat memiliki kebebasan yang luas untuk menentukan nasib sendiri, mengelola segenap kekayaan dan aset yang ada di Aceh dan didistrbusikan secara luas-luasnya untuk kesejahteraan rakyat Aceh. Menurut kalangan ini, merdeka dalam konteks ini bukan berarti berpisah dari pangkuan RI. Selain itu, bagaikan menelan ludah sendiri bagi rakyat Aceh manakala ingin berpisah dari RI. Pasalnya, realitas sejarah mengatakan bahwa rakyat Aceh dulu menyerahkan diri sepenuhnya dan bergabung dengan RI, bahkan bisa dikatakan Aceh adalah salah satu daerah yang mendukung berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, bagi kalangan rakyat biasa, mungkin kalangan anggota GAM level terbawah, kata ”merdeka” sama dengan lepas dari RI, berdiri sebagai negara tersendiri.

Kini kehidupan Aceh telah kembali dalam langgam perdaiaman. Situasi politik telah memberi ruang bagi setiap individu dan kelompok untuk mengekspresikan cita-citanya untuk membangun Aceh yang baru. Realitas paska pemilu, memang mengatakan bahwa kelompok eks kombatan GAM, keluar sebagai pemenang kompetisi merebut kursi di parlemen. Akan tetapi fakta sejarah diatas haruslah dihormati oleh semua pihak bahwa Aceh merupakan bagian integral dari NKRI. Di sisi lain, bahwa PA keluar sebagai pemenang pemilu 2009 juga merupakan realitas politik yang harus dihormati, serta diberi kesempatan untuk membangun Aceh melalui kebijakan-kebijakan yang akan dilekuarkan nanti. Diberbagai kesempatan kampanye-nya, PA pun selalu mengatakan PA bukan partai sparatis. Saya kira kepribadian rakyat Aceh yang pantang menjilat lidah sendiri tidak akan mengantar PA pada satu skenario Aceh berpisah dari RI, meski telah menguasai parlemen (DPRA).


Responses

  1. lihatlah tsunami aceh… allah maha adil.. perang melawan belanda.. pengorbanan yang dilakukan masy jawa.. banyak korban.. dalam melepaskan penderitaan nusantara akibat belanda,hinaan2.. dan ada yg berusaha berhianat.. mungkin aceh tidak melihat perang dahsyat jawa dgn belanda yang agresif secara langsung.. tuhan menghukumnya dengan tsunami.. tapi lihatlah sekali lagi.. siapa yang pertama kali melangkah?? siapa yang naik pohon mengangkat mayat2, mengubur dan mendoakan warga aceh yg terkena tsunami… siapa yang pertama kali mempermalukan dirinya sendiri di hadapan dunia internasional saat aceh tsunami.. mengapa aceh terkena tsunami?? tanya dengan SUKU ANAK DALAM sesama sumatra…

  2. wah…mas Indonesia ini kok masih rasis banget sih. semua rakyat Indonesia tak terkecuali ari Sabang sampai Merauke ikut berjuang membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Bahwa Aceh dilanda tsunami memang benar, tapi bukan karena takdir apalagi azab Allah. Tapi Tuhan memang telah menciptakan bumi ni selalu bergerak dan karenanya akan menimbulkan gempa kapan saja waktunya. sayangnya manusia belum mempunyai kemampuan memprediksikan secara tepat kapan gempa atau tsunami akan muncul lagi.


Leave a response

Your response:

Categories