Saat melintas jalan Kusuma, tepatnya di depan kantor PC NU Kebumen, tengoklah sejenak ke kantor tersebut. tepat dibawah tiang / saka penyangga bagian depan, terpancang poster besar bergambarkan salah satu pasangan cagub dan cawagubnya. berwarna dasar kunig, saya kira para pembaca sudah paham dari partai manakah ia berangkat.
selidik punya selidik, katanya ketua PC NU Kebumen sudah mendeklarasikan diri menjadi tim suksesnya pasangan calon tersebut. apa bener nich.
saya sih tidak akan mengungkap kabar tersebut. saya nggak tahu itu fakta atau bukan. kalau fakta ya mau dibilang apa, wong wis sepuh masa dikandani karo wong nom. kalau sebaliknya, saya bersyukur, karena NU tidak dibawa-bawa terus dalam dinamika politik pilgub di Jateng.
Menempelnya gambar tersebut di kantor NU Kebumen, bagi saya mengudang pertanyaan. Siapa yang memasang di situ? Apa motifnya? Bagaimana dampak sosialnya terhadap NU?
Sesuatu yang menempel atau melekat pada sebuah bangunan atau bahkan tubuh kita, merupakan cerminan yang bisa ditangkap orang lain. Tentu yang melihatnya. Orang yang berpakaian doreng, itu TNI, berseragam merah putih, biru-putih, putih-abu-abu adalah simbol anak-anak sekolah, Kini warga NU pun sudah punya seragam.
Apa boleh kalau saya katakan bahwa terpancangnya gambar Bambang-Adnan di depan gedung NU sebagai simbol bahwa NU berkecenderungan ke pasangan tersebut. boleh saya katakan kalau suara NU sedang diarahkan ke pasangan tersebut?
Kalau memang demikian, mengapa suara warga harus diarahkan? Bukankah mereka sebagai warga negara mempunyai hak menentukan suara atau pilihanya sendiri? Lalu kalau mereka jadi nanti apakah nasib kesejahteraan warga NU akan berubah dari derita saat ini?
Setiap tahun pengurus NU senantiasa diributkan dengan persoalan-persoalan Pilbup, pilgub, pileg dan pilpres. Tambah satu lagi pilkades. yang saya tahu porsi amanat didirikannya NU adalah untuk mengembangkan politik kebangsaan, dan politik kerakyatan. Politik kekuasaan malah menjadi secuil dari alat untuk mencapai suatu tatanan kebangsaan dan kerakyatan yan g lebih baik.
Mengapa sekarang pilitik kekuasaan menjadi lebih dari segalanya?. Pengurus NU ramai gawe kalau menjelang sebuah momentum pemilihan saja. Bukankah agenda pemberdayaan masyarakat NU lebih penting. Jutaan warga miskin di Indonesia, khususnya di Kebumen, sebagian besar warga NU.
Di tengah-tengah melambungnya harga berbagai kebutuhan dasar, tak ada satu sentuhanpun dari NU. Tentangga saya, sebut saja Bu Turyono, setiap harinya harus menggoreng tempe, krupuk dan memasak sayur, agar warung nasinya bisa buka terus melayani para pekerja pabrik genteng. Kini ia harus mikir dua kali untuk belanja tempe dan minyak goreng yang sama-sama harganya melambung. Pengalaman serupa juga dijumpai Yu Tukiyah. Ia seorang pengusaha tahu sejak tahun 70-an. Kontan, saat harga kedelai melonjak, dibarengi tingginya harga minyak goreng, Yu Tukiyah terancam gulung tikar, karena khawatir pemasukannya tidak seimbang dengan biaya / modal yang dikeluarkannya. Wah kalau sudah gulung tikar, bayangkan berapa pengusaha gorengan yang terancam ikut kukud juga.
Dua perempuan tadi, ternyata warga NU. Meski belum punya KartaNU (Kartu Anggota Nahdlatul Úlama), mereka melakukan yasin tahlil setiap minggunya bersama warga Muslimat lainnya di desa Logede. Lalu haruskah mereka kolaps perekonomiannya.? Ada struktur NU, tapi tidak memikirkan warganya, malah mikiraken wong-wong elite sing kemaruk kekuasaan. Jur piye?


