Posted by: kiaidelan | April 17, 2007

Terminal Bayangan yang Bikin Macet

Anda mungkin akan gerah saat menunggu keberangkatan bus berjam-jam. karena awak busnya harus menunggu penuh dengan penumpang. dan kecewanya lagi kalau kita lama-lama menunggu bus di terminal, tapi busnya malah pada asik mangkal di terminal-terminal bayangan yang seolah dilegalkan oleh pemerintah dan kepolisian. Apa tanggapan anda simak tulisanku.

Bagi kota sebesar Kebumen masalah kemacetan lalu lintas belum menjadi momok masyarakat pengguna jalan raya. Meskipun demikian di beberapa titik tertentu kita sering kalibertemu dengan kemacetan. Ironisnya di titik-titik tersebut padahal telah dibangun pos-pos jaga polisi. Dari batas kota sebelah timur, tepatnya di pertigaan Kedung Bener, setiap hari penuh sesak deretan bus umum yang parkir bukan di tempatnya. Seharusnya bus-bus umum tersebut ngetem di terminal tipe A yang sudah disediakan pemkab Kebumen. Belum lagi saat trafig light menunjukan warna lampu merah, kondisi kian macet karena deretan mobil, motor bercampur sepeda ontel dan becak saling berdesakan supaya begitu lampu hijau mereka melaju lebih dahulu. Selain itu juga tidak sedikit bus dan angkutan umum lainya yang menurunkan penumpangnya tepat berada di sebelah timur / timur lampu pengatur lalu lintas. Sambutan tukang becak dan tukang ojek yang saling berebut penumpang turut menambah pemandangan sumpeg di pertigaan tersebut.

Dua titik lain yang tak kalah sibuknya setiap hari yaitu di pertigaan Jl. Kusuma. Pertigaan ini menghubungkan antara jalur Wonoyosa ke pasar Tumenggungan dan ke arah stamplat colt. Tidak sedikit mini bus satu pintu yang menaikturunkan penumpang di area pertigaan tersebut. Titik selanjutnya yaitu tepat di perempatan sebelah barat stamplat colt tersebut. Mini bus-mini bus dari empat trayek dari Kebumen ke Purworejo, Gombong, Petanahan dan Karang Sambung ramai-ramai ngetem dan saling berebut penumpang. Karenannya hampir setiap hari perempatan tersebut padat dengan deretan mini bus yang bisa mencapai 7 s/d 10 buah.

Disamping problem kemacetan tersebut yang masih dalam skala kecil jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Indonesia, ternyata Kebumen juga mengalami problem dengan tata ruang jalur lalu lintas. Pembangunan terminal tipe A yang menelan dana milyaran rupiah ternyata di kemudian hari tidak membuahkan pendapatan daerah yang signifikan. Akhirnya banyak dugaan dari berbagai kalangan yang mengatakan ada kesalahan pembangunan terminal pada sisi penempatannya. Akibatnya debit bus-bus yang masuk ke terminal sangat sedikit. Bahkan sebagian melakukan transaksi pembayaran karcis dijalan tanpa harus masuk terminal.

Titik-titik kemacetan tersebut diatas menunjukan sikap indisipliner dari para stakeholder yang ada. Sikap indisipliner yang tumbuh dari motivasi meraup keuntungan sebesar-besarnya akhirnya menimbulkan kerugian bagi semua pihak. Pertama, penumpukan kendaraan yang terjadi di titik tertsebut telah mengambil alih fungsi terminal. Karena titik-titik kemacetan tersebut berubah menjadi terminal bayangan yang nihil aturan namun sayarat dengan penumpang. Makannya wajar saja kalau terminal dan stamplat sepi dari para pengguna jasa angkutan. Kedua, selain menimbulkan kemacetan beberapa area diatas menumbuh suburkan pedagang kaki lima. Dengan semakin sepinya pengguna jasa angkutan di dalam terminal dan stamplat maka kian surutlah pendapatan para pedagang kakilima didalamnya. Ketiga, menambah kerjaan bagi pihak keamanan. Para petugas kepolisian akan semakin repot dengan croudednya lalu lintas. Keempat¸ kemacetan yang kian meningkat akan menambah derajat stress masayarakat. Saya sering mendengar keluhan penumpang yang harus menunggu lama, hanya karena angkutan yang ditumpanginya belum penuh dengan penumpang. Kelima, kita melakukan pemborosan bahan bakar dan suku cadang kendaraan. Bahan bakar yang telah mengalami kenaikan harga terbuang sia-sia karena jeda waktu ngetem yang lama.   

Berkaitan dengan minimnya sumbangan pendapatan dari pos terminal bus tipe A pemerintah mengambil beberapa kebijakan terobosan. Pertama, dengan bekerja sama antara dinas perhubungan daerah dengan lembaga kepolisian melakukan penertiban kepada bus-bus komersil untuk masuk ke lokasi terminal serta menaikan dan menurunkan penumpang di dalamnya. Kedua, rencanannya pemerintah akan membagi dua jalur bus umum. Dari arah timur bus-bus tersebut tetap dilewatkan jalur lingkar selatan, sedangkan dari arah barat dilewatkan jalur lama yaitu lewat dalam kota. Untuk mendukung perubahan jalur ini, pemerintah sekarang sedang memulai pelebaran jalan Si Jago – terminal. Ketiga, meskipun konyol, keinginan pihak dinas perhubungan untuk membangun taman di depan terminal yang menelan anggaran 50 juta juga merupakan bagian dari upaya meramaikan terminal. Meski demikian kita juga akan menghadapi persoalan baru, karena jalur lama merupakan jalur padat. Hampir semua angkutan umum dari semua jurusan lewat jalur tersebut. Belum lagi ratusan sepeda motor dan sepeda ontel anak-anak sekolah dan pegawai juga memadati bahu jalan setiap pagi dan siang.

Siapapun pengguna jalan ingin perjalanannya lancar tanpa hambatan kemacetan. Kehadiran terminal-terminal bayangan di beberapa titik tersebut seharusnya mendapat perhatian dari pihak kepolisian. Selama ini petugas-petugas jaga dari kepolisian tidak maksimal menertibkan kekacauan lalu lintas, khususnya di terminal-terminal bayangan tersebut. Ini terlihat di perempatan Jl. Sutoyo, tepatnya di perempatan bakso urip dimana Polres Kebumen memasang spanduk yang bertuliskan larangan untuk menaikan penumpang di daerah tersebut. Nayatanya kebiasaan para awak angkutan ngetem di area tersebut tetap berjalan. Malahan sering saya lihat ada petugas kepolisian yang nongkrong bareng bersama awak-awak angkutan umum.

Selanjutnya dari mana kita harus memulai disiplin berlalu lintas? Menempatkan pada disiplinnya memang menjadi salah satu kunci ketertiban lalu lintas. Semua stake holder bertanggung jawab dalam menciptakan situasi yang nyaman berlalu lintas. Terminal dan stamplat colt yang memang mempunyai fungsi sebagai tempat menaikturunkan penumpang hendaknya difungsikan sebagaimana mestinya. Petugas kepolisian hendaknya bertugas menyamankan para pengguna jalan dengan mengembalikan posisi bus-bus umum dan angkutan umum lainnya untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas supaya menaik dan menurunkan penumpang diterminal.

Kemacetan yang selama ini terjadi di titik tersebut diatas ditengarai mengalirkan pemasukan ke kantong polisi dari para penyedia jasa angkutan umum yang lebih senang ngetem di tempat tersebut tinimbang di terminal atau stamplat. Jika faktanya demikian, maka dalam konteks ini terjadi tumpang tindih fungsi antar dua lembaga yaitu Dinas perhubungan dan lembaga kepolisian. Penertiban dan pembuatan konsep jalur lalu lintas hendaknya melibatkan dinas perhubungan, kepolisian dan masyarakat.

Pelibatan masyarakat tentu menjadi elemen yang asngat penting. Bagaimanapun kebijakan tata kelola transportasi dengan segala unsur-unsurnya akan kembali untuk kenyamanan masyarakat dalam aktivitas keseharianya. Misalnya pelebaran jalan pasti akan memangkas hak milik tanah masyarakat. Demikian pula dengan penertiban terminal bayangan. Masyarakat pengguna jasa angkutan umum dan semua penyedia jasa transportasi dengan difasilitasi dinas perhubungan dan kepolisian bisa duduk bersama untuk membahas refitalisasi terminal dan menghilangkan terminal bayangan yang menyebabkan kemacetan jalur lalu lintas.

     

 

     


Responses

  1. bagi saya sekarang bagaimana bapak ajalah kalau saya adalah bagaimana saya mau ke terminal ketika hendak bepergian ke terminal dulu dan bagaimana para angkutan kota mau lewat jalan sijago (karena jalan itu dibuat atas perjanjian dengan para pengusaha angkot) untuk perempatan yang dikatakan macet bagaiamana saya tidak naik di perempatan tersebut kata orang cerdik cendekia (mungkin para pendito kata orang jaman dulu termasuk ulama atau tokoh agama…embok ya) katanya harus nurut ulama dan umaro ketika itu bener kalau naik kendaraan di perempatan kira2 bener ndak…….yang saya yang jadi penumpang jangan naik disitu embok lo….., jadi bagaimana solusi disamping apa dan kenapa memang betapa sulitnya ketika bapak duduk disana dan saya yang tulis seperti bapak…..jawabnya ya mboh ya rika sing ngerti enyong ora ngertilah……….


Leave a response

Your response:

Categories